Kamis, 23 Oktober 2008

" Role Play Filosofikal Florence Nightingale "

Disusun Oleh :
Kristiawati
Ririn Sri Handayani
Wantiyah
Nuurhidayat
Moh. Judha


Mahasiswa Program Magister
Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia
2008

FLORENCE NIGHTINGALE : MODERN NURSING
Teori Nightingale mengutamakan focus pada lingkungan dalam penerapannya. Walaupun secara pernyataan tidak pernah menyebutkan lingkungan, ia menggambarkan lingkungan dan mendefinisikan tentang ventilasi, kehangatan, cahaya / penerangan, makanan, kebersihan, dan suara. Nightingale tidak secara khusus membedakan lingkungan pasien dalam aspek fisik, psikologis dan social, tetapi dari tulisan-tulisan yang ada ia memberi penekanan pada lingkungan fisik. Lingkungan sehat dilihat dalam situasi rumah sakit, rumah tinggal dan kondisi fisik pemukiman kumuh.
Lima komponen penting lingkungan yang sehat, menurut nightingale meliputi : udara bersih, air bersih, pembuangan air yang efisien, kebersihan, dan pencahayaan.
Nightingale menekankan pada pemberian ventilasi yang baik bagi proses penyembuhan pasien. Perawat diingatkan untuk ”mempertahankan pemberian udara pada pasien sebersih udara eksternal, tanpa membuatnya kedinginan” (Nightingale, 1969 ). Pencahayaan diidentifikasi sebagai terkena cahaya matahari secara langsung yang merupakan kebutuhan penting bagi pasien. Ia mengatakan ”cahaya memiliki pengaruh yang cukup nyata dan dapat dirasakan pada tubuh manusia” (Nightingale, 1969 ). Untuk memperoleh keuntungan dari sinar matahari, perawat diminta untuk memindahkan dan memposisikan pasien agar terkena cahaya matahari. Dalam pemberian vetilasi yang baik, perawat perlu mengkaji suhu tubuh pasien dengan cara mempalpasi ekstreminitas, agar jangan sampai pasien kedinginan atau kepanasan. Perawat disarankan untuk memanipulasi lingkungan secara berkelanjutan untuk mempertahankan ventilasi dan kehangatan pada pasien dengan pemberian pemanas, membuka jendela, dan pemberian posisi yang tepat pada pasien.
Kebersihan ditujukan kepada pasien, perawat dan lingkungan fisik. Lingkungan yang kotor (pada lantai, karpet, dinding dan bed linen) adalah sumber infeksi. Walaupun ruangan memiliki ventilasi yang baik, materi organik dapat membuat lingkungan menjadi kotor. Oleh karena itu, dibutuhkan pembuang ekskresi dan kotoran tubuh yang baik untuk mencegah kontaminasi terhadap lingkungan. Selain itu, pasien perlu dimandikan secara teratur setiap hari. Perawat juga harus mandi setiap hari, mengenakan pakaian yang bersih dan sering mencuci tangan. Konsep ini ditujukan bukan hanya ditujukan pada perawatan individual pasien, tetapi ditujukan juga bagi perbaikan status kesehatan di pemukiman kumum yang padat dimana pembuangan kotoran tidak adekuat dan akses mendapatkan air bersih terbatas.(Nightingale, 1969).
Kebutuhan akan lingkungan yang tenang juga perlu dikaji dan diintervesi oleh perawat. Suara berisik yang dihasilkan oleh aktifitas fisik di ruangan perlu dihindari karena dapat mengganggu pasien. Selain itu, perawat juga perlu memperhatikan diit/ makanan pasien. Perawat perlu mengkaji pemasukan makanan, jadwal makan dan pengaruhnya terhadap pasien. Nightingale percaya bahwa pasien dengan penyakit kronis dapat kelaparan dan perawat yang pintar adalah perawat yang berhasil memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
Selanjutnya, komponen lainnya yang didefinisikan oleh teori Nightingale adalah petty management (Nightingale, 1969), dimana perawat memiliki kendali terhadap lingkungan secara fisik dan administratif. Perawat perlu mengontrol lingkungan untuk melindungi pasien dari ancaman fisik dan psikologis; Nightingale juga yakin bahwa perawat akan tetap bertanggung jawat terhadap lingkungan walaupun ia tidak ada di ruangan, karena ia telah menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain yang bekerja disana saat ia tidak ada di tempat, hal ini menunjukkan sebenarnya proses pendelegasian sudah ada pada jaman Nightingale.

Asumsi Utama

Keperawatan adalah manusia yang bertanggung jawab terhadap kesehatan orang lain dan yang menjadi perawat adalah wanita terdidik yang belajar dan mengaplikasikan tambahan prinsip ilmiah pada pekerjaan dan lebih terlatih dalam melaporkan status pasien saat memberikan intervensi yang membantu proses penyembuhan pasien. Keperawatan dipandang sebagai proses non-kuratif yang bergantung pada penempatan individu dalam kondisi terbaik alamiah dimana lingkungan menjadi kondusif untuk proses perbaikan. Komunikasi dengan individu sangat penting dan tidak boleh terburu-buru serta bebas interupsi. Komunikasi yang dilakukan perawat kepada dokter dan anggota keluarga harus berada dalam lingkungan pasien. Observasi dan pengumpulan data spesifik perlu dilakukan untuk mencegah timbulnya masalah kesehatan..

Manusia ditujukan kepada pasien adalah individu yang memiliki kekuatan vital alamiah yang dibutuhkan proses perbaikan. Perawat melaksanakan tugas-tugasnya kepada pasien dan mengontrol lingkungan pasien untuk mempercepat proses penyembuhan klien. Pasien tidak sepenuhnya pasif dimana ia melakukan self-care jika memungkinkan dan dilibatkan pada penentuan waktu makan dan jenis makanan. Pasien dilihat secara individual dengan cara ditanyakan akan pilihan makanannya. Walaupun demikian perawat tetap mengontrol dan bertanggung jawab pada lingkungan pasien, dan berarti mengontrol beberapa pilihan dan perilaku indiviidual. Pasien dihargai atas latar belakang kehidupannya masing-masing.

Sehat didefinisikan sebagai dalam keadaan baik dan menggunakan setiap kekuatan/ sumber-sumber yang dimiliki manusia secara penuh dalam kehidupannya.
Penyakit dan sakit adalah proses perbaikan secara alamiah pada saat manusia tidak pada kondisi sehat. Penyakit tidak selalu membuat orang menderita. Penyebab penderitaan lebih banyak dikarenakan kondisi lingkungan buruk, makanan yang buruk atau kelemahan spiritual. Upaya mempertahankan kesehatan dilakukan dengan cara mencegah penyakit melalui kontrol lingkungan dan dan tanggung jawab sosial (Modern Public Health Nursing). Nightingale membedakan antara keperawatan sehat dan keperawatan untuk pasien yang sakit.

Lingkungan yang didefinisikan oleh Nightingale digambarkan sebagai ”elemen-elemen eksternal yang mempengaruhi kesehatan orang yang sehat dan sakit” dan meliputi ”semua yang berkaitan dengan makanan dan bunga pasien sampai dengan interaksi verbal dan non verbal pasien” (Fitzpatrick & Whall, 1983 ). Tujuan keperawatan adalah untuk menciptakan dan mempertahankan lingkungan terapeutik yang akan meningkatkan kenyamanan dan proses penyembuhan pasien. Nightingale percaya bahwa orang sakit yang miskin akan merasakan manfaat dari perbaikan lingkungan yang mempengaruhi tubuh dan pikiran mereka. Perawat dapat merubah status sosial orang miskin dengan memperbaiki kondisi lingkungan fisik dan psikologis mereka.
Peran Perawat
Menurut Nightingale, peran perawat adalah mencegah terganggunya proses perbaikan dan memberikan kondisi optimal yang meningkatkan proses perbaikan tersebut sehingga mempercepat proses penyembuhan pasien. Perawat harus mampu mengobservasi pasien dan lingkungannya dengan baik. Observasi dilakukan secara terus menerus.

Walaupun Nightingale tidak secara eksplisit membicarakan tantang perilaku caring perawat, ia sudah menggambarkan fenomena yang disebut keperawatan dan kebutuhan untuk berkomintmen terhadap kerja keperawatan. Pengalaman kerja keperawatannya di Crimea menunjukkan perilaku caring, termasuk komitmennya untuk mengobservasi pasien di malam hari, mendampingi pasien menghadapi kematian, berdiri disamping pasien saat dioperasi, menulis surat untuk pasien; dan memberikan bahan bacaan pada pasien.

Perawat harus menjadi agen moral, dimana ada suatu hubungan profesional antara perawat – pasien, mengingatkan pentingnya confidentiality, dan memberikan advokasi kepada orang-orang miskin untuk memperbaiki status kesehatan dan sosial mereka. Nightingale juga berpendapat tentang pentingnya pasien menjadi pengambil keputusan atas dirinya.





Referensi

1. Chinn, PL., Jacobs, MK., & Huetherm SE. (1983) Theory and nursing : A systematic approach. St.Louis: Mosby Co.
2. Fitzpatrick , J. & Whall, A. (1983) Conceptual models of nursing. Bowie MD: Prentice Hall dalam Tomey,
3. M, Alligood, MR.(2006) Nursing theories and their work. 6th ed. Missouri: Mosby Elsivier.
4. Nightingale, F.(1969) Notes in nursing: What it is and what it is not. New York: Dover dalam Tomey,
5. AM, Alligood, MR.(2006) Nursing theories and their work. 6th ed. Missouri: Mosby Elsivier.
6. Tomey, AM, Alligood, MR.(2006) Nursing theories and their work. 6th ed. Missouri: Mosby Elsivier.
7. http://www.lotsofessays.com/viewpaper/1694203.html

8. http://www.fratfiles.com/essays/71172.html

9. http://www.lotsofeyssays.com/essays/1694203.html

10. http://www.aku.edu.com/AKUH/Medical Profesional/nursingphilo.shtml






SKENARIO ROLE PLAY TEORI FILOSOFIKAL NIGHTANGALE

SUTRADARA : MUHAMMAD YUDHA
NARATOR : RIRIN SRI HANDAYANI
PEMAIN : KRISTIAWATI (Ners TIA)
WANTIYAH (Ners WANTI)
NUURHIDAYAT (Pasien Bp. YAYAT)
NARATOR :
Ruang Murai adalah Ruang Perawatan untuk pasien dengan kasus penyakit dalam. Ruang Murai menggunakan falsafah Nightingale untuk melandasi semua aktifitas dan kegiatan ruangan. Kepala ruangan bekerjasama dengan manajemen rumah sakit mendesain ruangan untuk mengkondisikan kepada falsafah Nightingale seperti dinding ruangan di cat dengan warna krem yang lembut sehingga pencahayaan menjadi terang, dibuat jendela-jendela menghadap keluar (taman) sehingga ketika dibuka udara segar akan masuk, jumlah TT pasien sesuai dengan luas ruangan dan logistik untuk mengganti set tempat tidur disiapkan dengan perhitungan jumlah TT dan rerata pasien masuk setiap hari. Setiap aktifitas asuhan keperawatan didasari oleh semangat falsafah Nightingale. Berikut ini adalah role play yang menggambarkan interaksi perawat di Ruangan Murai dimulai ketika overan shift dari jaga malam ke jaga pagi.

Berikut ceritanya……………….
Ners. Wanti (W) : (Baru datang …) Selamat pagi Ns. Tia……
Ners Tia (T) : Pagi…..
Ns. W : Bagaimana, bisa kita mulai overannya ?
Ns. T : Boleh, mau sekarang ? saya ambil buku laporannya dulu ya…

NARATOR : Ns. Tia mengambil buku laporan yang telah dibuat catatannya
tadi malam.
Ns. T : Kita mulai dari overan pasien dulu ya, setelah itu baru logistik
Ns. W : Ya gak apa-apa, …..

NARATOR : Ns. Tia dan Ns. Wanti berjalan menuju ruang rawat
Ns. T : Selamat pagi semua…..
Bp. Yayat (Y) +tmn : Pagi suster……
Ns. W : Ns. Tia, ada jendela yang belum dibuka tuh ..(menunjuk jendela
dibelakang TT Bp. Y
Ns. T : O ya, itu Bp. Yayat tidak suka kalau jendela dibuka. Tadi sudah saya
buka tetapi mungkin beliau tutup lagi.
(Ns. T berjalan kearah tempat tidur Bp. Yayat , dan sambil tersenyum….)
Ns. T : Pak Yayat, jendelanya kita buku dulu ya supaya udara dan sinar
matahari masuk, jadi ruangannya tidak lembab.
Bp Y : Silau ners makanya saya tutup lagi
Ns T : Ya sampai jam 9 pagi aja, setelah itu bisa di tutup lagi
Bp Y : Ya, deh

Narator : Ners T membuka jendela lalu kembali bersama Ners W melanjutkan operan
Ns T : Ini Bapak Yayat dengan diabetes hari ini hari ke -2 beliau dirawat, dapat insulin 10 u, 15 menit sebelum makan, pagi ini sudah diberikan tapi bapak yayat tidak menghabiskan makanannya, belum dikaji kenapa?
Ns W : Berapa banyak diitnya ?
Ns T : 1700 Kalori, tadi pagi mendapat roti 2 potong dengan mendapat susu, tapi hanya dimakan satu kerat dan susunya tidak diminum, setelah makan pagi mau duduk di taman
Ns W : Ada dicatat dilaporan kan ?
Ns T : Ya semua tercatat dengan lengkap
Ns W : Oke baik
Narataor : Ns Tia dan Ns wanti melanjutkan operan hingga semua pasien telah dioperkan kemudian mereka berdua melanjutkan dengan operan logistik
Ns T : Kamar mandi no 1 krannya macet, air cukup, dua yang lainnya lancar dan pagi ini sudah dibersihkan oleh klining service
Ns W : Ya nanti kita telepon instalasi untuk perbaikan

Narator : Ns Tia dan Ns wanti kembali ke Ners station lalu mencuci tangan
Ns T : Hands soap habis , persediaan set untuk tempat tidur cukup
Ns W : Kalo begitu kita juga minta ke bagian logistik

Narator : Ns Tia dan Ns Wanti melanjutkan operan logistik hingga selesai
Ns T : Bagaimana sudah semua khan ?
Ns W : Ya terima kasih , mau langsung pulang nih ?
Ns T : Iya lah, siang nanti ada acara, saya bersiap dulu ya

Narator : Ns Tia pergi keruang ganti dan berganti pakaian untuk pulang memakai sepatu hak tinggi
Ns W : Sepatu baru nih ?
Ns T : Baru lihat ya ? saya khan kalo pagi ngak berani pakai karena ada kepala ruangan
Ns W : (tersenyum ) itukan menyesuaikan dengan falsafah ruangan kita
Ns T : Ya bu, tenang aja semalam aku pakai sandal jepit.
Ns W : Apalagi pakai sendal jepit, lagi pula khan bahaya kalo ada jarum yang jatuh
Ns T : Ya, ya…. Terima kasih besok ngak lagi…..saya pulang dulu ya
Ns W : Oke hati-hati

Narator : Ns wanti berjalan ke ruangan bapak yayat
Ns W : Bapak tadi makannya ngak habis ya ?
Bp Y : Habis saya ngak suka makan roti
Ns W : Bapak sukannya makan apa ?
Bp Y : Saya biasa makan nasi , saya juga ngak bisa minum susu… bisa sakit perut… minumnya air putih saja
Ns W : Kalo begitu kita akan beritahu bagian gizi dan minumnya air putih, makannya harus tepat ya pak 15 menit sesudah disuntik insulin
Bp Y : Ya saya selalu tepat kok
Ns W : Bagus, pagi ini bapak rencananya mau duduk di taman khan ? kalo bapak mau sambil baca ada koran bisa bapak baca
Ns W : Terima kasih

kepemimpinan dalam keperawatan

Free Shoutbox Technology Pioneer

Sabtu, 20 September 2008

Mengapa falsafah dan paradigma kurang menjiwai perawat kita ( Indonesia ) dalam bekerja

Latar belakang
Paradigma keperawatan adalah cara pandang dalam suatu ilmu yang menjadi landasan berfikir dalam penerapan asuhan keperawatan, Beberapa ahli mendefinisikan paradigma sebagai suatu pandangan yang fundamental tentang suatu persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan, adapun keperawatan sebagai cabang ilmu berdasarkan pada empat komponen yaitu : manusia, keperawatan, kesehatan dalam rentang sehat sakit serta komponen yang terakhir yaitu lingkungan.
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis beberapa konsep dari beberapa ahli, menghubungkan paradigma keperawatan dengan filosofi keperawatan, dan bagaimana penerapan paradigma dalam layanan kesehatan.
Handerson mendefinisikan keperawatan sebagai kegiatan membantu individu untuk mendapatkan kemandirian dalam beraktivitas yang berkontribusi terhadap kesehatan atau proses penyembuhannya saja. Handerson mengkatagorikan aktivitas keperawatan kedalam 14 komponen kebutuhan dasar manusia, serta membagi peran perawat kedalam 3 peran yaitu : subtitutif ( melakukan untuk orang lain ) suplementari ( membantu untuk orang lain ), komplementari ( bekerja untuk orang lain ), dengan tujuan untuk membantu orang menjadi mandiri.
Dalam paradigma menurut Handerson terdapat 4 komponen, yang pertama adalah individu ( individu memiliki kebutuhan dasar yang merupakan komponen dari kesehatan, membutuhkan bantuan untuk mendapatkan kesehatan dan kemandirian atau meninggal dengan damai, pikiran dan tubuh saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan, mempertimbangkan komponen bilogis ,psikologis, sosiologi dan spiritua )
Lingkungan merupakan tempat dimana individu mempelajari cara-cara unik untuk hidup, meliputi semua kondisi eksterna dan efeknya yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangannya. Dasar dari tindakan keperawatan adalah menyediakan kondisi yang memungkinkan pasien dapat menunjukkan aktivitas tanpa bantuan.
Kesehatan adalah kemampuan individu untuk berfungsi secara mandiri berdasarkan 14 komponen, perawat menekankan pada promosi, prefentif dan pengobatan penyakit. Kesehatan juga dipengaruhi oleh umur, latar belakang budaya, fisik, kapasitas intelektual dan keseimbangan emosi.
Keperawatan didefinisikan sebagai kegiatan membantu untuk sementara individu yang memiliki kekuatan, kemauan dan kurang pengetahuan dalam mencukupi satu atau lebih dari 14 kebutuhan dasar. Perawat menjadikan pasien utuh dan independen.

Konsep paradigma keperawatan menurut Roy terdiri dari konsep adaptasi, manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan. Adapun uraian dari konsep ini adalah sebagai berikut :
Adaptasi adalah respon positif terhadap perubahan lingkungan, Proses Dan Hasil individu dan kelompok yang menggunakan kesadaran akan dirinya, diri cerminan /pemantulan dan pilihan untuk menciptakan integrasi lingkungan dan manusia.
Konsep manusia biopsikososiospiritual yang berinteraksi secara konstan dengan perubahan lingkungan, meliputi individu sebagai penerima asuhan tidak hanya individu itu sendiri tetapi juga individu sebagai bagian dari kelompok, organisasi, komunitas dan lingkungan sosial sebagai Holistic Adaptif Sistem.
Konsep lingkungan melihat semua kondisi yang berkesinampungan dan saling mempengaruhi perkembangan dan perilaku manusia dan kelompok dengan mempertimbangan hubungan yang menguntungkan antara manusia dan sumber alam termasuk stimulus fokal, konstektual dan residual.
Konsep sehat direpresentasikan sebagai rentang sehat sakit. Konsep perawat untuk meningkatkan adaptasi individu dan kelompok dalam 4 model adaptip (kebutuhan fisiologis, fungsi peran, konsep diri dan interdependensi) yang berkontribusi pada kesehatan, kualitas hidup dan dying dengan mengkaji perilaku-perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan adaptasi serta dengan melakukan intervensi untuk meningkatkan interaksi lingkungan.


Jean Watson berpendapat bahwa membuat landasan caring sebagai fokus sentral dari praktek keperawatan. Dalam teori Watson memandang 4 konsep utama sbb :
1. Manusia adalah seorang yang dihargai baik secara fisik, diawasi, terhormat, dipelihara, dipahami dan dibantu; di dalam suatu pandangan filosofis seseorang sebagai diri terintegrasi penuh dan fungsional. manusia dipandang sebagai lebih besar dari dan berbeda dengan yang lain.

2. Kesehatan
Watson percaya bahwa ada faktor lain yang diperlukan untuk mencapai definisi kesehatan menurut WHO. Dia menambahkan tiga unsur-unsur : mencapai tingkat yang lebih tinggi dari keseluruhan fisik, mental dan sosial. Mempertahankan fungsi adaptive-maintenance secara umum sehari-hari. Tidak adanya penyakit .

3. lingkungan / sosial
Menurut Watson memberi pengaruh secara terbuka terhadap manusia yang akan mencapai keselarasan. Sikap caring tidak diturunkan dari generasi ke generasi tetapi ditularkan melalui budaya profesi sebagai jalan / cara unik terhadap lingkungannya.

4. Ilmu perawatan
Menurut Watson“ Ilmu perawatan mempunyai kaitan dengan mempromosikan kesehatan, mencegah penyakit, caring terhadap sakit dan penyembuhan. Fokusnya pada promosi kesehatan dan penanganan penyakit.

Betty Neuwmen
Teori newman berfokus pada upaya preventif sebagai intervensi primer keperawatan, yang terdiri dari upaya preventif primer, skunder dan tertier. Empat elemen utama dari neumen adalah manusia dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari sub sistem : fisiologi, psikologi, sosiokultural, spiritual dan perkembangan.
Lingkungan dipandang sebagai kekuatan internal dan eksternal disekitar manusia dan berinteraksi setiap saat.
Kesehatan dipandang sebagai kondisi yang sejahtera, definisi sejahtera adalah suatu kondisi dimana keseluruhan atau sebagian berada dalam kondisi yang harmonis.
Keperawatan dipandang sebagai profesi yang unik yang memperhatikan seluruh variabel yang mempengaruhi respon seseorang terhadap stressor. Keperawatan didefinisikan sebagai kegiatan membantu individu, keluarga dan kelompok untuk mempertahankan kesejahteraan dan utamanya mencapai stabilitas klien termasuk intervensi keperawatan untuk mengurangi stressor.


Abdellah memandang manusia sebagai seseorang yang mempunyai kebutuhan fisik, emosional dan kebutuhan sosial. Individu dan keleuarga adalah penerima asuhan keperawatan, pasien digambarkan sebagai suatu justifikasi terhadap keberadaan keluarga.
Kesehatan menggambarkan suatu keadaan yang ekslusif dari penyakit. Abdellah tidak mendefinisikan tentang kesehatan tetapi meyatakan kebutuhan kesehatan secara menyeluruh adalah kondisi sehat pikiran dan tubuh sehingga keperawatan adalah suatu pelayanan yang komprehensif.
Lingkungan adalah tempat atau komunitas dari keberadaan pasien. Masyarakat termasuk ke dalam perencanaan kesehatan yang optimal di tingkat lokal, propinsi, nasional, dan internasional.


Falsafah keperawatan harus dipahami oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Terjadinya prilaku dan sikap perawat yang tidak mencerminkan falsafah dipengaruhi disebabkan oleh beberapa hal antara lain :
1.tingkat pengetahuan dan pendidikan para perawat yang tidak merata disetiap institusi ataupun wilayah indonesia
2.kurang kuatnya landasan sistem pendidikan keperawatan di indosesia
3.tidak adanya sistem seleksi berdasarkan peminatan sehingga kesadaran perawat kurang.terasah mengenai apa itu falsafah keperawatan sehingga menganggap pekerjaan perawat sebagai pilihan kedua bukan panggilan spiritual dan hati
4.sistem pemerintahan dan organisasi profesi yang kurang jelas dalam pembuatan kebijakan


ditulis oleh : M judha S.Kep Ns ( berdasarkan hasil diskusi kelompok II(B) prog S2 sp med.bedah Mahasiswa Universitas Indonesia )

Nursing Performance In management Job

In the past nurse management jobs or positions have seen nurse managers battle with operational, financial and management issues, which they have not been taught in clinical programs. The Healthcare Performance Institute’s program guarantees success, which will improve these skills and simultaneously advance their patient safety, staff satisfaction and productivity.

Nursing management jobs play a key factor in healthcare. The nurse manager is one of the key role-players in any healthcare organisation. The nursing management job encompasses the overseeing of quality of patient care, staff recruitment as well as staff retention. It may well be said that a nurse manager’s strength is a key issue in the success or failure of nursing leadership.

At the Healthcare Performance Institute we are committed to assisting the nursing management jobs and ensuring that each patient care area is managed with the highest level of quality care, as well as financial success. As a nursing manager it is essential that a balance is obtained between quality and cost, as well as being able to deal with everyday pressure and stress, while at the same time ensuring individual empathy is provided to patients.

The Healthcare Performance’s Institutes program for the development of nursing management jobs can be completed at the nurse manager’s own pace. There is no limit on the time allowed; it is purely up to the nurse manager. The program has been developed into manageable modules.

The enrolment for our program is an essential tool in the development of nursing management jobs, the program is ideal for new and seasoned nurse managers alike, who work in any patient care unit, being medical, surgical, intensive and critical care, labour and delivery as well as in rehabilitative services. It would be also be beneficial should a nurse manager want to accelerate their careers in nursing management jobs.

Various topics are covered by our program, including the challenges faced in a nursing management job, and how best to triumph over these challenges, as well as making the transition from Staff RN to being part of the management team. In addition, our program shows the nurse manager how to boost nursing staff fulfilment, as well as focusing on lessening staff turnaround. It covers techniques which demonstrate how to build strong coalitions with nursing staff and ultimately contributing to a high-performance work environment.

The Healthcare Performance’s Institutes program will provide you with the financial tools, which are essential to your nursing management job that will enable the nurse manager to control costs. A portion of the nursing management job is assisting their organisation to grow and to remain at a financially secure level. The Healthcare Performance’s Institutes program will provide you with the keys to gaining control of supply costs, by providing the nurse manger with uncomplicated tools to keep an eye on costs.

The program realises that while retaining the highest level of quality services, the program will provide the nursing management jobs a holistic approach to unit management, and the ability to make solid decisions where everyone benefits, above all the patient.

wrote by M judha Skep ( Mahsiswa Prog S2 Sp Medikal Bedah )